Introvert.
Itulah kata pertama yang orang pikirkan ketika mengenalku
ataupun melihatku. Kurasa aku memang seperti itu. Aku terlalu akrab dengan
kesendirianku, aku jarang bergaul dengan teman – teman lelakiku, lebih – lebih
dengan teman perempuan. Pastinya aku akan sangat canggung dibuatnya.
Namun, aku selalu mengingat satu temanku. Dan yang lebih
mengejutkan lagi, dia adalah perempuan. Kalian jangan berpikir kalau dia
pacarku ya? Karena aku jamin dia tidak akan sudi menerimaku dengan segala
keanehan dan ketertutupanku ini. Meskipun, ya, aku sangat mengaguminya. Semakin
hari rasa kagum itu semakin berkembang menjadi rasa sayang. Seumur – umur belum
pernah aku dibuat luluh oleh satu orang pun. Maksudku, aku sering sekali naksir
perempuan, tetapi rasa itu hanya sepihak. Aku sering mendapat penolakan. Bukan
berarti aku pernah nembak perempuan lho ya? Maksudku, menyatakan cinta gitu
lho. Sumpah, aku belum pernah melakukannya dan sampai saat ini pun aku belum
siap melakukannya. Tentu saja karena aku hanya diam. Memendam segala rasa suka
itu sampai aku sendiri yang lelah bersembunyi dibalik perasaanku sendiri. Namun,
bayangan perempuan yang satu ini sungguh mengirimkan suatu energi yang berbeda.
Ini bukan kisah horror hantu kuntilanak atau semacamnya, karena aku bersungguh
– sungguh bahwa perempuan ini sangat istimewa dan sangat pas untukku. Baiklah,
aku mulai ge-er berat.
Namanya Atika. Panggil saja Tika. Sejak kecil aku
mengenalnya. Kami satu SD tetapi beda kelas. Aku yakin kami hanya saling
mengenal nama satu sama lain karena selama SD itu kami tak pernah bercakap –
cakap sama sekali kecuali kedua orangtua kami yang gemar menunggu kami sewaktu
pulang sekolah. Lulus SD dan masuk SMP, kami berpisah. Awalnya memang aku tidak
terlalu memedulikannya sih.. karena saat SMP aku naksir teman satu angkatanku
bernama Eli. Dia keturunan Cina. Meski tubuhnya sedikit gempal, tapi dia
pintar, baik, dan imut. Entahlah bagaimana kronologisnya tapi seperti yang
sudah kukatakan, rasa sukaku selalu bertepuk sebelah tangan karena aku selalu memendamnya
dalam dalam. Memang aku sangat goblok. Singkat cerita, aku lulus dari SMP dan
melanjutkan studiku ke SMA negeri favorit di kota. Tak disangka aku bertemu
lagi dengan Tika. Perempuan itu. Dia tampak berbeda dengan saat SD dulu.
Tubuhnya semakin tinggi tentu saja, tetapi sayang dia semakin kurus saja.
Entahlah apakah itu hanya perasaanku. Kurasa tidak karena teman – teman SD yang
lain – yang kebetulan juga satu SMA lagi dengannya – mengatakan hal yang sama
dengan yang kupikirkan. Namun, saat itu Eli juga masuk ke SMA favorit itu dan
tak bisa kupungkiri bahwa fokusku adalah Eli karena sampai detik ini aku masih
sangat menyukainya bahkan saat dia sudah memiliki pacar sekalipun.
Aku sendiri tak paham dengan diriku sendiri. Aku banyak
naksir perempuan tapi tak sedikit pun niatku untuk menjalin hubungan serius.
Ya, mungkin karena aku masih terlalu anak mama. Bahkan, di SMA ini aku masih
sering diejek teman – teman SMP-ku sebagai anak mama abadi. Bukankah itu
kenyataan yang pedih? Dan sialnya kabar itu sampai di telinga Tika. Tika hanya
tersenyum geli saat teman – teman mulai mengejekku dan aku hanya akan diam dan
memaparkan ekspresi orang tidak berekspresi. Huf, bilang saja tidak memaparkan
ekspresi apapun. Susah sekali ya?!
Semakin hari aku semakin penasaran dengan Atika ini. Ternyata
dia sangat rajin. Meski tidak sepintar beberapa murid, tetapi dia termasuk yang
terajin. Karena aku ingin ketularan rajin, aku selalu bertanya padanya PR hari
besok apa saja, tugas untuk minggu depan apa saja, ulangan untuk beberapa hari
ke depan apa saja. Semuanya kutanyakan padanya. Bukan pada Tika saja sih,
tetapi juga pada semua teman – teman yang kuanggap pintar dan rajin dan sialnya
mereka semua perempuan. Tak heran sewaktu SMA itu aku sering dicomblangkan
dengan beberapa teman perempuan. Bukan hanya satu melainkan sampai 5 pun ada.
Namun, ada yang aneh. Mereka tidak mencomblangkanku dengan Tika. Padahal kalau
dilihat – lihat, aku paling sering bertanya pada Tika dibandingkan dengan teman
– teman perempuan yang dicomblangkan denganku itu. Ah, jangan – jangan mereka
yang naksir aku? Aduh, menjijikkan sekali menjadi lelaki tukang ge-er. Jadi
karena apa dong? Oh! Mungkin karena waktu itu Tika masih terlalu menutup diri.
Ya, dia masih sangat pendiam waktu itu. Maksudku, pendiam terhadap teman
lelaki. Kalau sama teman – teman perempuannya sih dia sudah sangat akrab dan
terbuka. Wah, kalau begini aku juga jadi ragu – ragu untuk memulai segalanya.
Eh, maksudku memulai pembicaraan semisal dibutuhkan komunikasi tertentu.
Hihihi.
Di kelas XI aku mulai melihat perubahan di diri Tika. Dia
mulai enjoy dan terbuka terhadap lelaki. Yang lebih mengejutkanku, ia jadi
sedikit tomboy. Bukan hanya sedikit sih tapi amat tomboy. Wuw, aku jadi merasa
tersaingi. Sebagai lelaki, teman – temanku tak pernah menganggapku lelaki
sejati karena aku belum bisa mandiri. Mereka justru lebih menganggap Tika
sebagai penjelmaan lelaki sejati. Apa – apaan ini?! pikirku awalnya. Bergaul
dengan teman – teman lelaki di kelasku membuat Tika jadi suka mengejekku juga.
Dan dari situlah aku mulai bisa mencuri kesempatan untuk mengenalnya. Dia unik.
Aku suka itu. Dia tidak seperti Eli yang feminim dan girly ataupun perempuan
lain di sekolah yang sangat gengsi dan suka menggosip. Tika berbeda. Dia selalu
tampil apa adanya, terbuka dengan segala ejekan teman2 lelaki yang tak pernah
lihat situasi, jago main alat musik, tidak suka menggosip – bahkan mukanya
kelihatan bingung berat waktu teman2 perempuannya pada asyik menggosip –. Satu
hal unik dari Tika adalah dia tidak jijik atau merasa terganggu dengan topik
pembicaraan para lelaki di kelas yang sudah pasti sangat menjijikkan itu. Ia
bahkan menanggapinya dengan santai. Aku mulai mencari kesempatan untuk
mendekatinya. Karena aku penasaran dengannya. Sepertinya dia menerimaku.
Maksudnya, sebagai teman ngobrol gitu. Tapi, lama kelamaan, para lelaki malah
menyomblangkan kami berdua. Sungguh konyol. Masa mereka menyomblangkanku dengan
Tika? Bisa – bisa aku yang dikira perempuan dan Tika-lah sang lelakinya. Tidak
mau!
Seperti itulah seterusnya hingga kami naik ke level terakhir
SMA. Aku masih menjadi lelaki pembungkam kelas kakap. Haha, begitu saja kok
dibanggakan!
Seperti itulah Tika pun menjadi primadona di kelas. Dia
sungguh ajaib. Dia bisa menjadi apa saja. Dia bisa menjadi pembuat onar, sumber
tawa, bahan ejekan, anak kesayangan guru, musuh ketua kelas, tempat curhat
bahkan gebetanku. Segalanya dia bisa lakukan. Dia ajaib banget kan?
Tapi sayang, semakin sering dia dicomblangkan denganku,
semakin aku menjauhinya. Tak jarang ia juga jadi sering gombalin aku dan
ngerayu aku. Membuatku salah tingkah. Aku gak bisa begini terus. Aku harus
bertindak. Mulai saat itu, setiap Tika mulai menoleh ke arahku untuk bercakap –
cakap tentang apa saja, aku selalu mengalihkan pandanganku. Menolaknya ketika
ia butuh bantuanku, bahkan mengusirnya ketika dia berusaha perhatian padaku.
Sungguh aku sangat suka diperhatikan seperti itu karena tak bisa kupungkiri
bahwa Tika-lah orang pertama yang sangat peduli padaku. Dan aku sebenarnya
sungguh menyesal melakukannya. Namun apa dayaku? Aku introvert. Aku tak akan
mengatakan apa yang sebenanya kurasakan padanya. Bahwa aku sangat mencintainya.
Amat. Tetapi lidah ini menolak mengungkapkannya.
Tika tak pernah menyerah. Entah dia juga menyukaiku atau
hanya ingin menggodaku – karena aku anak cupu – saja. Semakin pula aku tak
menyerah menghalau segala tindakan kepeduliannya kepadaku. Aku sempat mendengar
para perempuan berbisik pada Tika untuk jadian saja denganku. Tapi, sepertinya
Tika ragu – ragu. Tentu saja, mana mau dia berpacaran dengan lelaki cupu
seperti aku?
Meski aku sering cuekin dia, bukan berarti aku jahat lho
yaa.. sebenarnya aku geli juga melihat ekspresi Tika yang kecewa setiap aku
cuekin, tapi aku akan selalu balik menjahilinya dan satu kali tindakan jailku
terhadap Tika akan menyebabkan sorakan menggema di seantero kelas. Terpaksa deh
harus ganti strategi. Harus lihat kondisi sebelum pedekate sama Tika. Hehe. Dan
dengan cara itulah aku mulai sering SMS dia sekaligus pedekate. Alasannya adalah
minta dikursusin main gitar sampai hafal. Tetapi sayang banget, sepertinya Tika
menganggap permintaanku sebagai bualan semata sehingga ia kelihatan nggak niat
dan akhirnya batal deh rencanaku pedekate berduaan dengan kusyuk bersamanya.
Sial. Tetapi aku sering ke rumahnya kok. Barang 2 atau 3 kali dengan alibi
meminjam buku tugas. Hehe. Pintar kan aku?
Semua usahaku untuk pedekate dengan Tika hampir sepenuhnya
gagal sebelum suatu waktu, saat kami berdua kebetulan berangkat pagi karena
jadwal piket di hari yang sama, Tika menghampiriku dengan muka serius. Dia
memberiku coklat dalam rangka Valentine. Rasanya aku ingin menangis saat
menerimanya. Aku bahkan tidak memikirkannya sama sekali untuk memberinya
coklat. Aku sungguh pecundang.
“Jangan lupa dihabiskan ya..”, katanya singkat dan manis.
Tapi ada sedikit kemurungan dalam nada suaranya.
“Dan.. ini tadi ponselmu terjatuh di parkiran motor”, ia
sunggingkan senyum kecil sambil menyodorkan ponselku lalu pergi meninggalkanku.
Aku melongo melihat kepergiannya. Dia sangat berbeda hari ini. Dia terlalu diam
dari biasanya.
Tak kusangka, saat aku sampai di rumah, di dalam bungkus
coklat itu terdapat sepucuk surat dan buku bacaan yang dibungkus kertas kado
yang cantik. Ternyata dibalik kemaskulinannya, dia masih memiliki selera
perempuan juga.
Aku membukanya dan terkejut membuka surat itu.
Dear, Henry
Sejak awal
kamu memang pecundang, Hen.. Kamu suka menyendiri bahkan tak jarang
menganggapku nggak ada sewaktu aku bener – bener ada buat kamu. Apa caraku pun
tak bisa kamu cerna? Apa aku terlalu jelek? Apa Eli masih menguasai pikiranmu?
Atau foto cewekmu di ponselmu itu ya? Kalau memang jawabannya iya, aku nggak
apa kok. Aku juga udah nebak kalau akhirnya bakal kaya gini juga. Aku yakin
kamu nggak akan ngomong apa – apa ke aku meskipun aku tau banyak hal yang
pengen kamu omongin denganku. Kamu pastinya tau kalau selama ini aku nggak main
– main bersikap peduli dan perhatian sama kamu. Aku pengen selalu ada buat
kamu. Aku pengen bantu kamu bangkit dan nggak jadi introvert kaya gini lagi.
Aku merasa kamu terlalu kesepian. Ejekan teman – teman buat kita memang bikin
aku sedikit membuai nggak jelas. Tapi, aku yakin kalau kamu juga merasakan hal
yang sama kan? Aku tahu arti dari perilakumu selama ini kalau kamu juga menyimpan
rasa yang sama seperti rasaku. Aku sayang kamu, Henry..
Kalaupun
akhirnya kamu lebih memilih menunggu Eli atau cewek di ponselmu itu, I’m
compeletely fine. As long as you’re happy, I will take all the risks deh. And
aku juga bawain kamu buku tentang Introvert and Everything About It. Karena
buku ini, aku jadi tahu dan bisa mengartikan segala perilakumu selama ini.
Hehe. I do hope kamu bisa lebih terbuka dengan sekitarmu. Kalau kamu perlu
bantuan, just call me and help will come! Good luck for you. I love you and
Happy Valentine. Lolos dan lulus yak.. Hehe.
With love,
Atika
Tak terasa air mata menggenang di kedua pipiku dan menetes di
surat Tika. Buru – buru kuusap air itu dan kutiup surat itu sampai kering.
Dasar cengeng!
Dan ternyata selama ini Tika juga menyukaiku? Wow.. Nggak
bisa dipercaya.
Tapi siapa maksudnya foto perempuan di ponsel? Aku buru –
buru membukanya.
Tanpa kusadari, aku memasang foto ibuku sewaktu masih muda
sebagai wallpaper ponselku. Aku mulai nyengir sendiri membayangkan wajah Tika yang
terbakar cemburu melihat foto muda ibuku di layar ponselku. Tika..Tika.. memang
benar bahwa kaulah sumber tawa. Dan mulai detik itu kulahap buku pemberian Tika
dengan tebal 254 halaman itu satu malam dan telah kuputuskan apa yang akan
kulakukan.
Pagi itu, aku melihat Tika sudah duduk di kursinya.
“Cie, datang pertama..”, godaku sambil menaruh tas di
sampingnya.
“Cie, datang kedua...”, balasnya sambil agak terkejut melihat
tempat duduk di sampingnya sudah kusabotase.”Mau ngapain duduk disitu?”
“Mau duduk sama kamu. Boleh?”, Tika mengedikkan bahu sambil
nyengir nggak jelas dan ia pun membuang muka. Nggak salah lagi.. Dia pasti
sedang tersipu kan? Haha.
Aku menarik bahunya sampai berhadapan denganku. Mumpung baru
ada kami berdua di kelas ini.
“Tik..”,
“Ya?”, tanpa lama – lama – karena aku juga nggak tahan lagi –
aku mencium keningnya panjang. Dia sedikit terkesiap tapi aku menahannya.
“Hen?”, aku mendengar nada suaranya penuh tanda tanya.
“Aku cinta kamu, Tik. Bahkan saat aku nyuekin kamu sekalipun.
Maafin aku harus ngelakuin itu semua. Aku nggak tau harus ngapain lagi...”,
Tika menutup mulutku dengan tangannya yang halus dan tersenyum sinis. Tanpa
basa basi dia langsung menyosor bibirku dengan cepat dan mengejutkan. Aku ingin
mengumpat deh sumpah! Bukan karena dia bersikap nggak sopan, sebaliknya karena
aku sudah merencanakan untuk melakukannya setelah menyatakan perasaanku. Eh,
malah keduluan Tika. Yah, namanya perempuan maskulin dengan lelaki cupu. Pasti
tahulah siapa yang mendahului start? Haha. Untung di kelasku belum dipasangin
CCTV. Coba udah, mana berani Tika nyosor bibirku gini? Untung aja Tika cepat
ngelakuinnya. Memang top deh pacarku ini.. Ciee, pacarrr cuyyy!!
“Dasar, introvert!”, teriaknya sambil mengacak – acak
rambutku. Aku menggeleng kuat – kuat dan menggoyangkan jari telunjukku di
depannya.
“Say goodbye to an introvert!”
TAMAT
Oh cerita, kukira beneran
BalasHapus